Kau bagaikan mega putih yang berarak ditemani sang surya
Kau bagaikan ombak yang mengalun lembut dikeluasan samudera
Kau bagaikan sang raja siang yang membakar jiwaku
Kau bagaikan jamu terpahit yang harus kuminum
Kau... kaulah segalanya
Kau... tiada duanya
Kau... adalah bagian dari hidupku
Kasih.. kucinta kau apa adanya
By : Novianti A.
"I belong to no religion,
BalasHapusmy religion is love,
every heart is my temple".
~ Maulana Rumi ~
Sebagaimana kita pahami bersama, di dalam Islam, ada tiga level kesadaran. Kesadaran paling luar adalah kesadaran lahiriyah. Kesadaran paling luar ini karena terkait dengan urusan tubuh dan fisik, biasanya disebut dengan kesadaran dalam ranah syariat. Itu sebabnya syariat -dalam hal ini fiqih- lebih banyak berbicara tentang laku dalam keseharian kita.
Kesadaran kedua adalah kesadaran makna. Dalam kesadaran ini manusia akan menggali makna-makna di dalam agama melalui nalar. Kesadaran ini akan melahirkan konsep teologis di dalam agama. Misalnya menganalisa hubungan manusia dengan Tuhan, apakah determinis (jabariyah) atau kehendak bebas.
Kesadaran paling batin adalah kesadaran sufistik. Pondasi kesadaran sufistik ini adalah hati. Hati adalah wadah dalam meraih kesadaran sufistik. Kemudian di sisi lain, hati adalah wadah cinta, dan dalam pandangan Maulana Rumi, cinta adalah Ilahi. Hati, cinta, dan Tuhan adalah tiga hal yang tak terpisahkan dalam pandangan Maulana Rumi.
Melalui bait di atas, Maulana Rumi ingin mengajak kita masuk ke dalam kesadaran paling batin di dalam agama, yaitu kesadaran sufistik yang hanya bisa diraih dengan cinta yaitu cinta pada Ilahi di dalam hati. Sufi menyebut hati hanya jika terisi oleh cinta Ilahi.
Sebab itu kata Rumi, setiap hati adalah kuilku, karena hati hanya disebut hati jika terisi oleh cinta Ilahi. Dan karena itu pula, agamaku adalah cinta sebab cinta adalah Tuhan.
Jadi maksud 'I belong to no religion' adalah ketika seseorang telah berada di dalam aspek paling batin di dalam agama yaitu fana dalam cinta Ilahi, ia akan menyaksikan bahwa segala yang ada di luar berasal dari Tuhan.
~ Muhammad Nur Jabir ~